"Bodoh! Dia adalah Lynx! Kita diperintahkan untuk melaporkan keberadaannya, bukan untuk melawan dia!" bentak pemimpin itu dengan wajah panik. Dia sudah mendengar bagaimana seorang pemuda seorang diri mengalahkan tiga pimpinan prajurit beserta tiga mahluk mutasi peliharaan mereka. Meski melawan enam musuh, Lynx tetap dapat mengalahkan mereka. Hal yang paling menggetarkan mereka terutama mengenai kekuatan panas yang dapat keluar dari tangannya.
Namun, Lynx tidak memberikan mereka waktu untuk mundur. Ia maju dengan kecepatan kilat, menyerang pemimpin itu terlebih dahulu. Tebasan parangnya membelah udara, menghantam armor armor pria besar itu hingga pecah di bagian bahu. Koren terluka, darah mengalir dari lengannya.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu pergi?" kata Lynx dengan suara rendah, matanya penuh dengan tekad dingin.
Pemimpin pasukan itu terhuyung mundur, darah mengalir dari luka di lengannya. "Kita tidak bisa menang melawan dia! Mundur sekarang!" teriaknya, suaranya penuh ketakutan.
Beberapa prajurit mencoba melarikan diri, tetapi Lynx terus mengejar mereka satu per satu. Ia menebas kaki salah satu prajurit, menjatuhkannya ke tanah, sebelum beralih ke yang lain. Setiap serangan dilakukan dengan presisi, menunjukkan kekuatan dan keterampilan luar biasa.
Narendra dan pria-pria Uksa hanya bisa menyaksikan dengan rasa kagum dan ngeri.
"Dia tidak seperti kita," bisik salah satu pria Uksa kepada Narendra.
Narendra mengangguk pelan, matanya tetap terpaku pada Lynx. "Dia lebih dari sekadar pejuang. Dia adalah senjata kita meraih kebebasan."
Sementara itu Roni yang selalu menyalahkan Lynx merasa keringat dingin keluar dari tubuhnya. "Kenapa dia bisa sekuat itu, bagaimana jika dia dendam kepadaku." Batinnya.
Ketika sebagian besar pasukan Monrest mulai melarikan diri, Lynx berdiri tegak di tengah medan, tubuhnya berlumuran keringat dan darah musuh. Pemimpin pasukan, Koren, yang terluka parah, berusaha menyeret dirinya menjauh.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun," kata Lynx, mendekatinya dengan langkah tenang namun penuh ancaman.
"Lynx," gumam pemimpin itu dengan suara serak. "Damon akan datang untukmu. Kau tidak tahu siapa yang kau lawan."
"Damon?" Lynx berhenti sejenak, menyipitkan mata. "Kalau begitu, sampaikan padanya bahwa aku menunggunya."
Dengan satu ayunan cepat, Lynx mengakhiri nyawa pemimpin itu. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan suara berat.
Namun, tanpa diketahui Lynx, beberapa prajurit Monrest berhasil menyelinap ke hutan di tengah kekacauan. Mereka tidak menoleh ke belakang, lari secepat mungkin untuk melaporkan apa yang terjadi kepada Damon, kepala suku Monrest.
Ketika pertempuran usai, penduduk desa Uksa mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Widhi dan Narendra mendekati Lynx, matanya penuh dengan rasa kagum.
"Kamu sungguh luar biasa. Aku belum pernah melihat seseorang yang memiliki kemampuan bergerak secepat dan selincah itu," Kata Narendra memuji.
Kau tidak hanya melindungi kami. Kau memimpin pertempuran ini," kata Widhi, sambil meletakkan tangannya di bahu Lynx.
Lynx hanya mengangguk, matanya menatap jauh ke arah hutan. "Tapi beberapa dari mereka melarikan diri. Ini belum selesai."
Beberapa tetua desa mendekat. Ia menatap medan pertempuran yang penuh dengan tubuh prajurit Monrest. "Kau membawa kemenangan kepada kami, Lynx. Tapi dengan mereka yang melarikan diri, kita mungkin menghadapi balasan yang lebih besar."
"Kalian benar, tetapi menang atau kalah, sebenarnya desa kalian sudah menjadi incaran suku Monrest," Lynx mengingatkan.
"Kita harus bersiap," lanjutnya. "Ini bukan hanya tentang kalian. Jika Damon benar-benar menginginkan aku, maka ini menjadi urusanku juga."
Widhi mengangguk pelan, meskipun wajahnya tetap muram. "Kau memiliki keberanian yang luar biasa, Lynx. Tapi aku harap kau tahu apa yang kau hadapi. Damon tidak seperti pasukannya. Dia lebih dari sekadar pemimpin dan memiliki kekuatan yang tidak biasa."
"Kalau begitu," jawab Lynx, suaranya penuh tekad, "aku akan memastikan bahwa dia juga tahu siapa yang sedang dia hadapi."
Siang itu setelah pertempuran, suasana desa Uksa dipenuhi dengan campuran lega dan kecemasan. Penduduk sibuk membersihkan sisa-sisa pertempuran, menguburkan korban, dan mengemas barang-barang mereka untuk persiapan pindah menyusul keluarga mereka yang telah berangkat terlebih dahulu. Mereka tidak berani untuk menetap di tempat itu karena khawatir dengan serangan suku Monrest lainnya.
Lynx berdiri di balai pertemuan bersama Widhi dan beberapa tetua desa, sementara Narendra duduk di dekatnya, mendengarkan dengan serius.
"Suku Sinto telah pindah ke sebelah barat pulau," kata Lynx dengan nada mantap. "Mereka telah menetap di sana, membangun desa yang lebih kuat dengan berbagai persenjataan menggunakan bahas seperti ini," Lynx memperlihatkan parangnya yang bersinar berkilauan terkena sinar matahari. "Jika kalian mau, aku bisa membawa kalian ke sana. Bersama-sama, kita bisa membuat tempat yang aman bagi semua orang."
Widhi menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan keraguan. "Kami menghargai tawaranmu, Lynx. Tapi suku Uksa telah hidup mandiri selama bertahun-tahun. Berpindah ke barat, ke wilayah yang belum kami kenal, adalah sesuatu yang sulit bagi kami. Apalagi, kami mendengar banyak cerita buruk tentang makhluk liar di barat."
Lynx mengangguk memahami. "Aku mengerti. Tapi Monrest akan terus mengejar kalian. Berpindah tempat saja tidak cukup untuk melindungi diri. Kalian perlu aliansi."
"Kami tahu," kata Widhi dengan nada lebih lembut. "Tapi beri kami waktu. Kami akan pindah ke tempat lain terlebih dahulu, jauh dari jalur Monrest. Ketika kami siap, kami akan mempertimbangkan bergabung dengan Sinto di barat."
Lynx ingin mendesak lebih jauh, tapi ia bisa melihat tekad di mata Widhi. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan terlalu lama. Jika Monrest menemukan kalian lagi, mereka mungkin tidak akan memberi kesempatan kedua."
Widhi menatap Lynx dengan penuh rasa terima kasih. "Kami akan ingat apa yang telah kau lakukan untuk kami, Lynx. Kau telah menjadi lebih dari sekadar tamu bagi desa ini. Kau adalah seorang sekutu."
"Lynx, aku meminta maaf atas kesalahanku sebelumnya," tiba-tiba Roni mendatangi dan meminta maaf.
"Aku mengerti. Apa yang kamu lakukan adalah demi kebaikan suku kalian, jadi tidak perlu dipikirkan." Jawab Lynx.
Setelah pertemuan itu, mereka semua berangkat menyusul kepergian rombongan pertama. Lynx mengikuti rombongan agar dia bisa memastikan keamanan suku Uksa dan mengetahui bagaimana cara menemukan mereka kelak.
Beberapa jam kemudian, setelah menempuh perjalanan melewati berbagai tempat yang penuh dengan jebakan alami, mereka telah sampai di sebuah tempat yang agak terbuka dengan beberapa rumah telah berdiri.
"Lynx!" tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil.
Lynx segera menoleh kearah asal suara dan melihat seorang anak gemuk berusia sekitar 7 tahun sedang berlari kearahnya.
"Lynx, kalian selamat." Kanha datang dengan gembira melihat kedatangan mereka.
Kanha menceritakan kondisi mereka yang baik-baik saja. Lynx juga menceritakan sekilas pertempuran mereka, bagaimana mereka bekerjasama membunuh pasukan Monrest.
Malam harinya, mereka berkumpul di depan api unggun. Kepala Suku Widhi menceritakan kepada Lynx bahwa suku mereka sering pindah-pindah menghindari serangan suku Monrest, karena itu mereka sudah terbiasa menyiapkan rumah-rumah terlebih dahulu di tempat persembunyian mereka berikutnya.
Lynx mengganggukkan kepala, "Itu sebabnya kenapa sudah ada bangunan di tempat ini." Batinnya.
Setelah itu Lynx menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan perjalanan mencari suku yang lainnya, karena dia ingin menyatukan seluruh suku yang ada untuk dapat bekerjasama mengalahkan Monrest.
Keesokan harinya, saat Lynx bersiap melanjutkan perjalanannya, Narendra menghampirinya.
"Aku ingin ikut denganmu," katanya tanpa basa-basi.
Lynx menatap Narendra dengan dahi berkerut. "Kenapa?"
"Aku ingin belajar darimu," jawab Narendra, suaranya penuh tekad. "Kau tidak hanya kuat, tapi juga cerdas dalam bertarung. Aku ingin tahu apa yang kau tahu, agar aku bisa melindungi desa kami dengan lebih baik."
Kanha, yang mendengar pembicaraan mereka, melompat berdiri. "Aku juga mau ikut! Aku ingin jadi sekuat Kak Lynx!"
Lynx tersenyum kecil, tapi sebelum ia bisa menjawab, Widhi mendekat dengan wajah serius.
"Tidak. Kalian tidak bisa pergi," kata Widhi tegas. "Narendra, kau adalah calon pemimpin desa ini dimasa depan. Kami membutuhkanmu di sini, terutama saat kita baru pindah seperti ini."
Narendra menatap kepala sukunya dengan mata penuh tekad. "Kepala suku, jika aku tidak belajar lebih banyak, bagaimana aku bisa melindungi desa kita? Lynx bisa mengajarkan kita cara bertarung, cara bertahan hidup. Ini bukan hanya untukku, tapi untuk seluruh desa."
Widhi menghela napas panjang, jelas sedang mempertimbangkan situasinya. Ia berbalik ke arah Lynx. "Aku akan menyerahkan keputusan ini kepada Lynx. Apakah bersedia membawanya atau tidak?"
Lynx menatap Narendra dan Kanha, lalu kembali ke Widhi. "Aku tidak bisa menjamin tidak ada bahaya. Tapi jika mereka ingin ikut, aku dengan senang hati bersedia mengajak mereka. Aku bisa berjanji untuk menjaga mereka sebaik mungkin. Mereka akan belajar banyak, dan itu akan berguna bagi desa kalian."
Widhi masih terlihat ragu, tetapi akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi Narendra, kau harus berusaha agar tida menjadi beban bagi Lynx."
Narendra tersenyum lega. "Aku mengerti, kepala suku."
Kanha melompat kegirangan. "Berarti aku juga boleh ikut?"
Widhi menatap Kanha dengan tatapan tajam. "Kanha, kau bukan prajurit. Apa kau yakin bisa menghadapi apa yang akan terjadi di luar sana?"
Kanha berdiri tegap, meskipun tubuh kecilnya tidak terlalu meyakinkan. "Aku tidak akan menjadi beban! Aku ingin belajar seperti Kak Narendra. Lagipula, kalau Kak Narendra bisa pergi, kenapa aku tidak bisa?"
Widhi menghela napas panjang lagi, menggelengkan kepala. "Baiklah. Tapi jangan buat aku menyesal mengizinkanmu pergi."
Ketika matahari mulai naik ke langit, Lynx, Narendra, dan Kanha meninggalkan desa Uksa, membawa perbekalan dan persenjataan sederhana. Lynx memimpin jalan, menggunakan peta kasar yang ia miliki untuk mencari arah menuju wilayah suku Raksa.
Narendra berjalan dengan langkah mantap di belakang Lynx, memegang tombaknya. "Suku Raksa," gumamnya. "Kamu yakin akan mendatangi mereka terlebih dahulu? Mereka dikenal sebagai suku yang kuat, tapi juga agresif. Apa Kau yakin mereka akan mendengarkan kita?"
"Kita tidak punya pilihan selain mencoba," jawab Lynx. "Raksa mungkin satu-satunya suku yang cukup berani untuk melawan Monrest secara langsung. Jika kita bisa membuat mereka bergabung, kita punya kesempatan untuk melawan, selain itu mereka yang terdekat dengan kita."
Kanha berlari kecil di samping Narendra, matanya penuh rasa ingin tahu. "Apa suku Raksa benar-benar sehebat itu? Apa mereka sekuat Kak Lynx?"
Narendra tertawa kecil. "Mungkin mereka tidak punya kekuatan seperti Lynx, tapi mereka dikenal sebagai petarung yang luar biasa. Jadi, jangan cari masalah dengan mereka, Kanha."
Kanha meringis. "Aku tidak akan cari masalah. Aku kan cuma mau belajar."
Lynx menoleh ke arah Kanha, tersenyum kecil. "Belajar juga berarti tahu kapan harus diam, Kanha. Ingat itu."
Kanha mengangguk dengan semangat, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan lebat, melewati sungai kecil, dan menavigasi jalur berbatu. Lynx terus mengawasi lingkungan sekitar, memastikan tidak ada ancaman yang mendekat. Narendra dan Kanha mengikutinya dengan setia, siap menghadapi apa pun yang menanti mereka di depan.
Namun, Lynx tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Ia merasa bahwa ancaman dari Monrest mungkin lebih dekat daripada yang mereka kira.

